Output Karya Ilmiah dari Rama Karya Edisi 2

 Pemanfaatan dan Pengelolaan Bisnis Syariah di Era digitalisasi


Abstrak: Era digital membawa dampak yang begitu 
signifikan, dan sangat mempengaruhi sendi 
kehidupan sekarang ini. Teknologi informasi yang 
bertransformasi sedemikian pesatnya menaruh 
harapan yang pasti bagi kegiatan perekonomian.
Hadirnya komunikasi dan dakwah dalam diri 
manusia sebagai fitrah, menjadi control yang dapat memberikan kestabilan bagi manusia, baik untuk 
kehidupannya secara fisik maupun secara kejiwaan. Untuk itu perkembangan Teknologi yang semakin pesat, sangat berkaitan dengan ajaran agama yang mampu mempersatukan. Sebab, untuk mendukung seluruh aktivitas ekonomi dan keuangan syariah, pelaku ekonomi harus menyesuaikan diri dengan kondisi perkembangan terkini.

Kata kunci: Perkembangan, Pengelolaan Bisnis 
Syariah, Digitalisasi.

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi dan komunikasi 
merupakan tahapan baru bagi masyarakat dalam 
memperoleh informasi secara otonom. Sehingga, 
masyarakat menjadi kritis dan tanggap terhadap 
banyak hal yang sedang berkembang. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang begitu pesat, berhasil memunculkan sebuah media baru diantaranya adalah munculnya internet.
Terdapat beberapa prinsip dalam islam yang 
tidak boleh diabaikan oleh para pelaku bisnis, baik 
secara pribadi maupun sebagai kelompok bisnis, 
yaitu tidak boleh menggunakan cara-cara yang bathil dan merusak, tidak boleh melakukan kegiatan usaha dalam bentuk perjudian atau ada kemiripan dengan perjudian, tidak saling mendzalimi dan saling merugikan, tidak berlaku curang dalam takaran, timbangan ataupun pemalsuan kualitas, dan tidak mempergunakan cara-cara yang ribawi atau dengan sistem bunga. Prinsip-prinsip iniah yang menjadi dasar utama dalam pengelolaan bisnis syariah yang dilakukan oleh pengusaha atau perusahaan. 
Selain memperoleh profit atau benefit, bisnis 
dalam islam juga memiliki orientasi pertumbuhan, 
keberlangsungan dan keberkahan. Artinya, bahwa 
perusahaan harus berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat, dengan tetap berada dalam 
koridor syariah.

PEMBAHASAN 
1. Perkembangan Bisnis Syariah 
Perkembangan bisnis Islam ( syariah ) kini 
kian marak menjamur di Indonesia. Salah satu 
pendorongnya adalah karena adanya kesadaran 
masyarakat yang mayoritas muslim untuk 
menggunakan dan memanfaatkan produk-produk 
atau barang-barang maupun jasa, yang halal dan 
tayyib. Maka, peran produsen atau perusahaan perusahaan bisnis berbasis syari’ah menjadi sebuah alternative yang cukup menjajikan.
Para ahli berpendapat bahwa perkembangan 
era informasi tidaklah membawa akibat yang 
menggembirakan bagi negara berkembang. Sebagian masyarakat masih berada pada era industry dan sebagian kecil lagi sudah berada pada era informasi. 
Negara berkembang dengan ciri khas memiliki 
keunggulan komparatif dalam hal tenaga kerja yang murah nampaknya dalam era informasi tidak dapat lagi dijadikan andalan dalam persaingan global. 
Menghadapi era informasi yang padat pengetahuan, negara berkembang perlu meningkatkan upaya dalam pengembangan sumber daya manusia yang cocok dengan kebutuhan pada era informasi dengan 
ciri padat pengetahuan. 
Akibat perkembangan teknologi informasi 
yang sangat cepat, masyarakat dihadapkan pada 
perubahan dan tuntutan yang serba cepat. Hal ini 
sering menimbulkan ketidaksiapan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan era informasi. 
Para pemimpin harusnya memahami persoalan 
tersebut dan senantiasa mengantisipasi berbagai 
perubahan mengantisipasi berbagai perubahan dan tuntutan yang akan terjadi agar kegagalan dan 
ketertinggalan dalam penerapan teknologi informasi untuk meningkatkan produktifitas nasional tidak mengalami hambatan yang berat.
Sekarang ini, perkembangan pesat terlihat dari 
beberapa indicator seperti jumlah aktiva, volume 
pembiayaan, jaringan kantor bank, dana pihak ketiga dan lain-lain. Hal tersebut terjadi dari sistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. 
Pendapat lain muncul dari Miranda Gulton, yaitu 
pertama, fatwa majelis ulama Indonesia (MUI) 
mengatakan, bahwa bunga bank hukumnya riba dan haram; kedua, kesadaran umat islam tambah 
meningkat, khususnya kalangan kelas menengah ke atas, ketiga, keberhasilan sistem ekonomi syariah dalam menunjukkan keunggulannya dan teruji ketika krisis ekonomi melanda Indonesia; keempat, Undang-Undang Perbankan Syariah akan menjadi paying hukum perbankan syariah di Indonesia, kelima; tuntutan integrase lembaga keuangan syariah (LKS) yang saling menopang.

2. Pengelolaan Bisnis Syariah
Dalam pengelolaan bisnis kita harus 
melakukan perbaikan dan inovasi secara terus 
menerus, dikarenakan persaingan bisnis saat ini 
semakin ketat. Sebagaimana dikutip oleh Melina 
mengatakan “anticipating massive change across 
diverse industries, top-performing CEOs are 
focusing on business model innovation as a path to 
competitive power and growth”. Hal ini ditunjukkan betapa pentingnya inovasi model bisnis dalam kekuatan kompetitif dan pertumbuhan perusahaan. 
Maka istilah model bisnis dipakai untuk ruang 
lingkup yang luas dalam konteks formal dan informal untuk menunjukkan aspek inti suatu bisnis, termasuk mencakup maksud dan tujuan, apa yang ditawarkan , strategi, infrastruktur, struktur organisasi, praktikpraktik niaga, serta kebijakan-kebijakan dan prosesproses operasional.
Sedangkan definisi secara umum model 
bisnis yaitu memasukkan penciptaan nilai pelanggan sebagai salah satu elemen inti. Oleh karena itu, model bisnis harus menjelaskan bagaimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggannya. Ada dua prinsip utama yang patut dicontoh dari perjalanan Rasullah. Pertama, uang bukanlah modal utama dalam berbisnis, dan kedua, modal utama dalam usaha adalah membangun kepercayaan dan dapat dipercaya (al-amin).
Dalam Islam Bisnis yang dilakukan sesuai 
syari’ah bertujuan untuk mencapai falah sebagai 
tujuan hidup seorang muslim. Maka dari itu 
pengelolaan bisnis syari’ah tidak hanya memandang aspek material, namun lebih ditekankan pada aspek spiritual. Sedangkan, ‘falah’ merupakan konsep yang multidimensi dan memiliki nimplikasi pada aspek perilaku individual atau mikro dan perilaku kolektif atau makro.
Dengan demikian dipertegas bahwa, pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “management”. Istilah tersebut berasal dari Bahasa inggris lalu di Indonesiakan menjandi “menejemen”. 
Menejemen adalah suatu aktivitas khusus 
menyangkut kepemimpinan, pengarahan, 
pengembangan, perencanaan, dan pengawasan 
terhadap pekerjaan-pekerjaan dalam suatu proyek. 
Selanjutnya tujuan bisnis dan usaha dalam 
islam diantaranya: 
1) Untuk memenuhi kebutuhan hidup
Artinya, seorang muslim diminta bekerja dan 
berusaha untuk mencapai tujuan.
2) Untuk kemslahatan keluarga 
Artinya, berusahalah dan bekerja diwajibkan 
demi mewujudkan keluarga sejahtera.
3) Usaha untuk kerja 
Artiya, setiap muslim diminta untuk berusaha 
dan bekerja bermanfaat.

3. Bisnis Syariah 
Secara etimologis atau Bahasa, ‘Syariah’ adalah 
jalan ke tempat pengairan, atau jalan yang harus 
diikuti, atau tempat lalu air sungai. Sedangkan 
pengertian ‘Syariah’ menurut pakar hukum islam 
adalah “segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlak”.Sehingga dapat disimpulkan bahwa Syariah adalah ketentuan-ketentuan Allah yang wajib dipatuhi baik terkait dengan masalah aqidah / tauhid, ibadah/hubungan kepada Allah dan muamalah/ hubungan sesama manusia.
Selanjutnya pengertian ‘Bisnis’ secara umum 
adalah sebagai suatu aktivitas yang dilakukan 
seseorang untuk memperoleh pendapatan atau 
penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Salah satu cara yang efektif dan efisien yaitu 
mengelolah sumber daya ekonomi dengan sebaik 
mungkin. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ‘bisnis syari’ah’ adalah serangkaian aktivitas jual beli dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan hartanya baik barang atau jasa, tetapi dibatasi cara memperoleh dan menggunakannya. Artinya, dalam mendapatkan harta dan menggunakannya tidak boleh dengan cara-cara yang diharamkan Allah.
Firman surat Al-Baqarah Ayat 42 yang 
mempertegas berbisnis menurut ketentuan syariah yaitu:” Dan janganlah kamu campur adukkan yang 
hak dengan yang bathil dan janganlah kamu 
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu 
mengetahui” (Depag RI: 1998: 34). Maka dapat diketahui dari arti surat tersebut, bahwa bisnis menurut ketentuan syari’ah tidak boleh bersifat liberal atau bebas, tetapi harus mengikuti norma halal, haram bahkan yang syuhbat lebih baik dijauhi daripada dilakukan. Bahwa sesuatu yang 
tidak mendapat ridho Allah, sesungguhnya tidak 
akan membawa keselamatan. Sedangkan Allah juga telah memberikan petunjuk bahwa Allah Maha 
Kuasa dalam memberikan sanksi kepada orang yang memperoleh harta dengan jalan haram akan ditimpa berbagai penyakit.
Selanjutnya yaitu tujuan dari bisnis syariah 
antara lain:
a. Memperoleh keuntungan material dan non 
material, artinya hal rasional apabila seseorang 
mengingginkan keuntungan atau profit, namun 
demikian keuntungan material tersebut harus dapat melahirkan keuntungan non profit secara umum maupun khusus. Misalnya, dapat menciptakan suasana yang kondusif, persaudaraan, kepeduliaan sosial dan sebagainya. Sedangkan dapat disimpulkan dalam kegiatan bisnis apapun bentuknya tetap dituntut untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah.
b. Mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi, 
artinya aktivitas bisnis diharapkan dapat
mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang maju dan 
berkembang besar. 
c. Menjaga keberlangsungan bisnis,
hal ini berarti atas dasar bisnis syari’ah 
keberlangsunga bisnis akan tercapai dnegan 
sendirinya dengan sederatan harapan kehidupan 
umat manusia.
d. Memperoleh berkah dari Allah,
berkah sendiri adalah bertambahnya kebajikan dan ketenangan dalam diri seseorang yang tidak dapat dihitung secara matematik. Begitu juga dengan bisnis syari’ah dijalankan sebenarnya untuk mencapai tujuan yang esensial yaitu berkah.
e. Mendapat ridha Allah,
hal ini berarti umat islam, mempunyai keyakinan 
bahwa jika hidupnya mendapat ridha Allah akan 
pasti tenang, tenteram, harmonis dan selamat dunia dan akhirat. 
f. Mendapatkan ketenangan lahir dan batin,
ini berarti dalam bisnis contohnya Allah telah 
membuat aturan-aturan yang jelas, seperti haramnya riba, pengurangan timbangan, pemalsuan barang, menyembunyikan cacat barang dan lain-lain. Hal tersebut mampu melahirkan ketentraman lahir dan batin orang-orang yang mematuhinya.

4. Digitalisasi Bisnis Ekonomi Syariah
Pengaruh digital marketing selalu mengalami 
perkembangan setiap saat.Diantara yang 
dikembangkan di Indonesia yaitu penggunaan 
teknologi dalam dunia usaha ataupun bisnis. Digital marketing menurut Amerika Marketing Association (AMA) adalah aktifitas, institusi, dan proses yang difasilitasi oleh teknologi digital dalam menciptakan, mengomunikasikan, dan menyampaikan nilai-nilai kepada konsumen dan pihak yang berkepentingan (Clesson & Jonson, 2007). Dengan perkembangan teknologi tersebut, 
‘digital marketing’ adalah salah satu cara pemasaran yang dianggap lebih efektif dan efisien dalam mencapai target pasar. Pada era teknologi yang terus berkembang pesat, ‘digital marketing’ antara lain kegiatan transaksi jual beli dapat diselenggarakan setiap saat (real time); lebih mudah mengakses informasi produk-produk yang ditawarkan untuk mempertimbangkan keputusan pembelian. Beberapa market place di Indonesia yang menyediakan inormasi berbagai produk antara lain: bukalapak, shopee, tokopedia, facebook, dan lain-lain. Perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus berinovasi. Masyarakat saat ini dihadapkan dengan era digital sehingga sebagian bentuk kegiatan sosial juga beralih pada sistem digital. Hal ini sulit dihindari karena teknologi berkembang.

Kesimpulan 
Bisnis dalam islam bertujuan untuk mencapai 
empath al utama :
(1) target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri
(2) pertumbuhan 
(3) keberlangsungan
(4) keberkahan
Sedangkan bisnis dalam islam banyak dijelaskan 
dalam Al-Qur’an dengan menggunakan beberapa 
tema, seperti: tijarah, al-bai. Isytara dan 
tadayantum. 
Dari kesemua tema tersebut 
menunjukkan bahwa bisnis dalam perspektif islam 
pada hakikatnya tidak semata-mata bersifat material yang tujuannya hanya mencari keuntungan dan 
kebahagian ukhrawi. Untuk itu bisnis dalam islam 
disamping harus dilakukan dengan cara professional yang melibatkan ketelitian dan kecermatan dalam proses manajemen dan administrasi agar terhindar dari kerugian, juga harus terbebas dari unsur-unsur penipuan (gharar), kebohongan, riba dan praktekpraktek lain yang dilarang syariah.
Pengembangan digitalisasi dalam pemulihan 
perekonomian UMKM di Indonesia secara digital 
harus memiliki beberapa instrumen tertentu 
diantaranya: memiliki regulasi Sebagai SOP dalam 
mejalankan usaha; tingkat kecerdasan; menjunjung transparansi dalam bertransaksi; memprioritaskan 
kepuasan konsumen dan public service prima. Hal 
lain juga dapat dilihat bahwa peningkatan kualitas 
pelayanan dapat dilakukan melalui digitalisasi 
produk perbankan, dimana digitalisasi merupakan 
proses membuat atau memperbaiki proses bisnis 
dengan menggunakan teknologi dan data digital.

Postingan populer dari blog ini

Pemenang Lomba Desain Grafis IBF'20

Kajian Online

Sarasehan dan Evaluasi Program Kerja